BREAKING NEWS

Santri Surakarta Hadirkan Kajian Baru Al-Qur’an, Skripsinya Dinilai Selevel Disertasi


BERITA SOLO | SURAKARTA — Prestasi akademik kembali ditorehkan oleh generasi muda Muslim yang menekuni kajian Al-Qur’an secara mendalam. Di tengah berkembangnya berbagai pendekatan modern dalam studi Al-Qur’an, Aliya Savana Amanullah yang merupakan santri Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta ini berhasil membuktikan bahwa khazanah ilmu qirā’āt dan tafsir linguistik masih menyimpan banyak ruang kajian yang relevan untuk dikembangkan dalam dunia akademik kontemporer.


Mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta tersebut berhasil menyelesaikan studi sarjananya melalui penelitian ilmiah yang mengkaji hubungan antara bunyi dan makna dalam Al-Qur’an melalui perspektif fonosemantik.

Skripsi yang disusunnya berjudul: “Analisis Fonosemantik Qirā’āt Sab‘ah Pada QS. Aḍ-Ḍuḥā [93] 1–11: Perspektif Tafsīr Linguistik.”

Penelitian dibawah bimbingan Dr. Hj. Ari Hikmawati, M.Pd. tersebut mengkaji karakteristik variasi bunyi dalam qirā’āt sab‘ah pada Surah Adh-Dhuha serta implikasinya terhadap nuansa makna ayat melalui pendekatan fonosemantik dalam perspektif tafsir linguistik. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa keragaman qirā’āt tidak hanya menunjukkan perbedaan cara membaca Al-Qur’an, tetapi juga berpotensi menghadirkan nuansa makna, efek retoris, dan pengalaman spiritual yang berbeda bagi pembacanya.

Dalam penelitiannya, Aliya menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Sumber utama yang digunakan antara lain kitab-kitab qirā’āt serta karya-karya tafsir linguistik klasik seperti Al-Kashshāf karya Imam Az-Zamakhsyarī dan Al-Baḥr Al-Muḥīṭ karya Abū Ḥayyān Al-Andalusī. Analisis dilakukan dengan memadukan kajian fonologi Arab dan teori al-munāsabah al-ṣawtiyyah yang dikembangkan oleh Ibn Jinnī untuk mengungkap hubungan antara karakter bunyi dan nuansa makna yang dihasilkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi qirā’āt sab‘ah pada QS. Adh-Dhuha didominasi oleh fenomena fonologis berupa imālah kubrā, taqlīl (imālah ṣughrā), fatḥ, tarqīq, saktah, serta variasi kadar madd yang banyak ditemukan pada bagian akhir ayat (fawāṣil), khususnya lafaz-lafaz yang berakhir dengan alif maqṣūrah. Variasi tersebut menghasilkan perbedaan konfigurasi alat ucap, resonansi suara, dan karakter akustik yang membentuk spektrum bunyi dari vokal terbuka yang tegas hingga vokal miring yang lembut.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa perbedaan bunyi dalam qirā’āt tidak mengubah makna dasar ayat, namun memberikan gradasi nuansa makna yang berbeda. Bacaan yang menggunakan imālah dan taqlīl cenderung menghadirkan kesan fonetik yang lembut, tenang, dan meneduhkan sehingga sangat selaras dengan tema utama Surah Adh-Dhuha sebagai surah penghiburan dan peneguhan hati Rasulullah SAW. Sebaliknya, bacaan yang menggunakan fatḥ menghadirkan kesan yang lebih terbuka, jelas, dan tegas sehingga memperkuat dimensi penegasan, jaminan, dan janji Allah yang terkandung dalam ayat-ayatnya.

Penelitian ini juga berhasil menunjukkan bahwa dimensi bunyi dalam Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari dimensi maknanya. Bunyi bukan sekadar media pelafalan, tetapi berfungsi sebagai instrumen retoris yang memperkuat pesan semantik ayat dan membangun pengalaman emosional bagi pendengar maupun pembacanya. Temuan ini sekaligus memperkuat pandangan para ulama bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kandungan maknanya, tetapi juga pada keindahan dan keserasian bunyinya.

Secara akademik, penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan studi Al-Qur’an kontemporer. Pendekatan fonosemantik yang digunakan membuka peluang integrasi antara disiplin qirā’āt, fonologi Arab, semantik, dan tafsir linguistik dalam satu kerangka kajian yang lebih komprehensif. Dengan demikian, qirā’āt sab‘ah tidak hanya dipahami sebagai variasi riwayat bacaan yang bersifat transmisi, tetapi juga sebagai manifestasi kemukjizatan bahasa Al-Qur’an yang mempertemukan bunyi, makna, dan pengalaman spiritual dalam satu kesatuan yang harmonis.

Prestasi tersebut mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari salah satu penguji munaqasyah, Prof. Dr. Abdul Kholiq Hasan, yang secara langsung menyampaikan kekagumannya terhadap kualitas penelitian yang dilakukan Aliya Savana Amanullah.

Dalam sidang munaqasyah, beliau menyampaikan: "MasyaAllah, MasyaAllah, luar biasa sekali ini. Hebat sekali, penelitian ini langka. Harusnya penelitian seperti ini sudah sekelas disertasi, bukan skripsi. Pemikiran kamu berbeda dengan yang lain. Saya yakin kamu akan lanjut S2 ya, anakku. Hebat sekali."

Pernyataan tersebut menjadi bentuk pengakuan akademik yang sangat berharga mengingat kajian fonosemantik qirā’āt masih relatif jarang diteliti secara mendalam di lingkungan perguruan tinggi. Menurut beliau, penelitian yang menghubungkan qirā’āt, fonologi Arab, dan tafsir linguistik seperti yang dilakukan Aliya memiliki nilai kebaruan (novelty) yang tinggi serta berpotensi menjadi pijakan bagi penelitian-penelitian lanjutan pada jenjang magister maupun doktoral.

Menanggapi keberhasilan tersebut, para dosen dan civitas akademika memberikan apresiasi atas ketekunan dan kesungguhan Aliya Savana Amanullah dalam meneliti tema yang relatif jarang dikaji secara mendalam dalam lingkungan akademik. Kajian yang menghubungkan ilmu qirā’āt dengan fonosemantik dinilai memiliki nilai kebaruan yang kuat sekaligus membuka arah baru dalam pengembangan metodologi studi Al-Qur’an.

Menanggapi capaian tersebut juga, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Musta'iniyyah Surakarta, KH. R. Dr. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha menyampaikan apresiasi atas keberhasilan yang diraih Aliya Savana Amanullah.

"Alhamdulillah, kami turut bersyukur dan bangga atas prestasi yang diraih Ananda Aliya. Penelitian yang diangkat menunjukkan kesungguhan, ketekunan, dan keberanian intelektual dalam mengkaji khazanah Al-Qur’an secara mendalam. Semoga ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang bermanfaat, berkah, dan membawa kemaslahatan bagi umat."

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Musta'iniyyah, Ust. Wassim Ahmad Fahruddin, turut menyampaikan ucapan selamat dan harapannya.

"Kami mengucapkan selamat dan sukses kepada Saudari Aliya Savana Amanullah atas capaian akademik yang membanggakan ini. Apresiasi yang diberikan para penguji menunjukkan kualitas penelitian yang sangat baik. Semoga keberhasilan ini menjadi langkah awal untuk terus berkarya, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, dan memberikan kontribusi bagi pengembangan keilmuan Islam."

Keberhasilan Aliya Savana Amanullah menyelesaikan penelitian ini menjadi bukti bahwa generasi muda Muslim masih memiliki perhatian besar terhadap pengembangan khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam bidang Al-Qur’an dan tafsir. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam klasik tetap relevan untuk dikaji dan dikembangkan melalui pendekatan akademik modern yang sistematis dan ilmiah.

Semoga capaian ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa, santri, akademisi, dan generasi muda Indonesia untuk terus meneliti, menulis, serta mengembangkan berbagai disiplin ilmu keislaman sehingga khazanah intelektual Islam dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan umat, bangsa, dan peradaban. (R/007)