Duet DR Kyai Mustain Nasoha dan Kyai Zainal Abidin Sukses Bedah Fiqih Qurban dan Penyembelihan di PCNU Surakarta
Font Terkecil
Font Terbesar
BERITA SOLO | SURAKARTA — Gelombang penguatan tradisi keilmuan Islam kembali tampak begitu kuat di Kota Surakarta. Ratusan da’i, ustadz, kiai, asatidz, serta tokoh agama dari berbagai daerah menghadiri Kajian Kitab Kuning Bab Qurban dan Penyembelihan yang diselenggarakan oleh PCNU Surakarta melalui Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) di Aula PCNU Surakarta.
Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh khidmat, akademik, dan sarat nuansa intelektual khas tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah.
Tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa majelis ilmu dan kajian kitab kuning masih memiliki posisi sentral dalam penguatan dakwah Islam Nusantara. Para peserta berasal dari berbagai majelis taklim, pondok pesantren, lembaga pendidikan Islam, masjid, dan komunitas dakwah yang memiliki perhatian besar terhadap penguatan pemahaman fiqih, khususnya menjelang momentum Idul Adha.
Sejak awal kegiatan, atmosfer religius dan spiritual telah terasa kuat. Acara diawali dengan Semaan Al-Qur’an yang dibawakan oleh Ananda Andri Hanafi, santri Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta, kemudian dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an oleh Ananda Ahmad Mukhibullah Al Hafidz, Anggota Komisi Fatwa MUI Surakarta. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menggema di seluruh ruangan menghadirkan suasana teduh, khusyuk, dan penuh keberkahan, sekaligus memperkuat dimensi spiritual dalam forum keilmuan tersebut.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Al-Barzanji yang dipimpin oleh Ketua LDNU, Ust. Neni Muttaqin. Gema shalawat yang dilantunkan bersama-sama oleh para da’i dan ustadz menghadirkan atmosfer ruhani yang mendalam serta memperlihatkan kuatnya tradisi mahabbah kepada Rasulullah ï·º dalam kultur dakwah Nahdlatul Ulama.
Sambutan pembukaan disampaikan oleh pengurus PCNU Surakarta yang diwakili oleh Dr. (Cand.) Mashuri, M.Si.. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kajian kitab kuning merupakan bagian penting dari proses transmisi sanad keilmuan Islam sekaligus instrumen strategis dalam memperkuat kualitas dakwah moderat di tengah dinamika sosial masyarakat modern.
Beliau juga menyampaikan bahwa para da’i dan ustadz memiliki tanggung jawab intelektual dan moral untuk terus memperdalam wawasan keislaman agar mampu menghadirkan dakwah yang argumentatif, menyejukkan, serta mampu menjawab tantangan sosial-keagamaan secara bijaksana dan kontekstual.
Pada sesi inti, materi utama disampaikan oleh Dr. KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha dengan tema “Qurban untuk Bangsa dan Negara dalam Tinjauan Bingkai Pancasila dan NKRI.” Dalam penyampaiannya yang sistematis, analitis, dan multidisipliner, beliau menjelaskan bahwa ibadah qurban tidak dapat direduksi semata sebagai ritual simbolik penyembelihan hewan, tetapi harus dipahami sebagai manifestasi nilai teologis, sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan.
Menurut beliau, qurban merupakan pendidikan spiritual dan sosial yang mengajarkan pengorbanan egoisme, penguatan solidaritas sosial, distribusi kesejahteraan, serta pembangunan kesadaran kolektif demi terciptanya harmoni kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih egoisme, keserakahan, dan kepentingan pribadi demi lahirnya keadilan sosial, persaudaraan umat, dan kekuatan bangsa,” tutur beliau di hadapan ratusan da’i dan ustadz.
Dalam kajiannya, beliau menghubungkan nilai-nilai qurban dengan prinsip-prinsip fundamental Pancasila dan kehidupan berbangsa. Nilai ketauhidan tercermin dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai kemanusiaan tampak dalam semangat berbagi dan kepedulian sosial, sedangkan nilai persatuan dan keadilan sosial terejawantahkan melalui penguatan ukhuwah kebangsaan dan pemerataan manfaat qurban bagi masyarakat.
Beliau juga menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme dalam konteks Indonesia bukanlah dua entitas yang saling bertentangan, melainkan dua kekuatan moral yang dapat berjalan harmonis dalam membangun bangsa yang religius, adil, dan berkeadaban.
“Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan politik, tetapi oleh manusia-manusia yang memiliki jiwa pengorbanan, kepedulian sosial, dan akhlak kebangsaan,” jelas beliau yang juga merupakan pengurus PWNU Jawa Tengah pada lembaga LPBH.
Dalam kesempatan tersebut, beliau turut memberikan penekanan kepada para da’i dan ustadz agar menghadirkan model dakwah yang inklusif, intelektual, dan memperkuat persatuan umat serta bangsa di tengah tantangan polarisasi sosial yang semakin kompleks.
“Da’i dan ustadz hari ini tidak cukup hanya menyampaikan hukum, tetapi juga harus menghadirkan Islam yang mampu menjaga persatuan, menenangkan umat, dan merawat Indonesia,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta tersebut.
Pemaparan beliau yang argumentatif, akademik, dan kontekstual mendapatkan perhatian besar dari para peserta. Banyak peserta tampak aktif mencatat poin-poin penting sebagai bekal penguatan dakwah dan pendidikan masyarakat.
Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh KH. Moh. Zainal Abidin dengan tema “Fiqih Qurban dan Penyembelihan.” Dalam kajiannya, beliau membahas secara mendalam berbagai ketentuan fiqih terkait qurban dan penyembelihan berdasarkan pandangan para ulama dan literatur fiqih klasik.
Pembahasan meliputi hukum qurban, syarat hewan qurban, kategori cacat hewan, waktu penyembelihan, tata cara penyembelihan sesuai syariat, hingga distribusi daging qurban kepada masyarakat. Beliau juga menekankan pentingnya menjaga etika penyembelihan sebagai implementasi nilai rahmah dalam ajaran Islam.
Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh antusiasme dan semangat intelektual yang tinggi. Para peserta mengaku memperoleh penguatan wawasan fiqih, spiritualitas, dan metodologi dakwah yang sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer.
Kajian kitab kuning ini sekaligus menegaskan bahwa tradisi keilmuan Islam berbasis pesantren masih menjadi fondasi penting dalam menjaga moderasi beragama, penguatan sanad intelektual, dan pembangunan peradaban Islam Nusantara yang rahmatan lil ‘alamin. Melalui kegiatan tersebut, PCNU Surakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat tradisi keilmuan, memperkuat kualitas dakwah, serta menjaga harmoni kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. (red)


