BREAKING NEWS

Diresmikan Tepat di Hari Lahir Pancasila, Balai Pengobatan Sosial Bhineka Usung Nilai Gotong Royong dan Toleransi


BERITA SOLO | SURAKARTA — Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026), Balai Pengobatan Sosial "Bhineka" resmi dibuka. Fasilitas kesehatan yang beralamat di Jl. Kahayan 1 RT 07/RW 06, Kelurahan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta ini merupakan kediaman pribadi milik salah satu foundernya, Arif Syarifuddin.

​Pemberian nama "Bhineka" sengaja dipilih untuk menggambarkan nilai Pancasila yang menjunjung tinggi semangat gotong royong. Hal ini diwujudkan langsung di lapangan, Balai Pengobatan Sosial Bhineka murni didirikan atas kolaborasi swadaya antara Arif Syarifuddin selaku pemilik rumah, Dr. Dwi Redjeki sebagai tenaga medis sukarela, serta Willy Leo Santiko beserta istrinya, Lina.

​Tanpa campur tangan dana pemerintah, balai ini didedikasikan secara penuh untuk masyarakat dan beroperasi secara gratis setiap hari Senin hingga Sabtu, pukul 10.00–13.00 WIB.



Apresiasi dari Pemerintah Kota Surakarta

Mewakili Walikota Surakarta, dr. Nur Hastuti, M.Kes, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif pendirian fasilitas kesehatan sosial ini.

​"Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Kota yang kuat adalah kota yang berkolaborasi, di mana pemerintah dan masyarakatnya memiliki kepedulian terhadap sesama," pesan Walikota dalam sambutan yang dibacakan oleh perwakilannya.

​Pemerintah Kota Surakarta berharap Balai Pengobatan Sosial Bhineka dapat terus berkembang dan menjadi bukti nyata bahwa semangat kemanusiaan serta gotong royong masih hidup dan tumbuh subur di Surakarta.


​Berawal dari Inisiatif Kepedulian Sosial

Arif Syarifuddin menegaskan bahwa balai pengobatan ini terbuka bagi seluruh masyarakat sekitar tanpa memandang suku, ras, maupun agama. Ia menceritakan bahwa inisiatif ini berjalan lancar karena Dr. Dwi Redjeki bersedia meluangkan waktu untuk mengabdi secara gratis, sementara kebutuhan perlengkapan disuplai oleh Willy dan istrinya.

​Arif sendiri dengan ikhlas merelakan kediamannya dialihfungsikan menjadi fasilitas publik. Sebelumnya, rumah tersebut juga kerap digunakan sebagai tempat pengajian, ruang rapat warga, hingga dapur sosial pada masa pandemi Covid-19.

​"Semoga langgeng ya, Mbak, sampai kiamat. Ini sebagai tabungan amal kebaikan, kan?" harap Arif terkait masa depan balai pengobatan yang baru pertama kali ia rilis bersama rekan-rekannya tersebut.


​Respons Antusias Warga

Kehadiran fasilitas kesehatan gratis ini disambut antusias oleh warga. Sesaat setelah peresmian, masyarakat sudah memadati lokasi untuk mengikuti kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis.

​Suyono, warga setempat yang turut mengantre, mengaku sangat terbantu dengan inisiatif ini. Ia berharap keberadaan balai pengobatan dapat terus bertahan meski beroperasi secara mandiri di luar program pemerintah.

​"Lebih dekat, sangat membantu sekali. Ya, mudah-mudahan berkelanjutan," tuturnya.

​Meskipun Balai Pengobatan Sosial Bhineka saat ini sepenuhnya beroperasi secara gratis berkat swadaya pendirinya, ke depannya diharapkan muncul donatur-donatur baru yang turut bergotong royong menjaga keberlangsungan fasilitas sosial ini. (Editor ■ Fatikha Fikriyatul Mudhi’ah)