Petrokimia Gresik Guyur Kompensasi Rp120 Miliar Demi Perkuat Daya Beli Petani
Font Terkecil
Font Terbesar
BERITA SOLO | WONOGIRI — Kabar gembira datang bagi sektor pertanian pada Hari Raya Idul Fitri 2026 ini. Petrokimia Gresik resmi mencairkan dana kompensasi penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi dengan total nilai fantastis mencapai Rp120 miliar.
Langkah strategis ini diambil untuk memastikan distribusi pupuk tetap lancar sekaligus menjaga daya beli petani agar tetap stabil di tengah musim tanam yang sedang berlangsung.
Pencairan tahap awal ini menyasar para Pelaku Usaha Distribusi (PUD) serta Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS) di wilayah Boyolali dan Wonogiri, Jawa Tengah.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menjelaskan bahwa kebijakan penurunan HET yang berlaku sejak 22 Oktober 2025 ini bertujuan langsung untuk menekan biaya produksi di tingkat petani.
"Penurunan HET pupuk bersubsidi memberikan dampak langsung bagi petani karena mampu menekan biaya produksi. Dengan biaya yang lebih efisien, daya beli petani semakin kuat dan produktivitas pertanian dapat terus meningkat," kata Daconi, dalam keterangan resminya, pada Rabu (25/3).
Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada para mitra distribusi di lapangan yang menjadi garda terdepan dalam memastikan pupuk bersubsidi sampai ke tangan yang tepat.
Menurutnya, kolaborasi yang kuat dengan para mitra adalah kunci suksesnya implementasi kebijakan ini. Proses pemberian kompensasi ini dilakukan dalam dua tahap. Termin pertama segera diberikan setelah seluruh dokumen administrasi dinyatakan lengkap.
Sementara termin kedua akan menyusul setelah proses verifikasi lapangan oleh PT Pupuk Indonesia (Persero) selesai dilakukan. Secara nasional, program ini akan menyentuh 782 distributor dan belasan ribu pengecer di seluruh Indonesia.
Sebagai gambaran nyata, kebijakan ini telah memangkas harga berbagai jenis pupuk hingga sekitar 20 persen.
Saat ini, harga pupuk urea turun menjadi Rp1.800 per kilogram, sementara NPK kini dibanderol Rp1.840 per kilogram. Penurunan serupa juga terjadi pada pupuk NPK khusus kakao, pupuk ZA yang masuk skema subsidi, hingga pupuk organik yang kini lebih terjangkau di angka Rp640 per kilogram.
Daconi optimistis bahwa penurunan harga yang cukup signifikan ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah dalam mengejar target swasembada pangan nasional.
Menurut Daconi, penurunan harga ini bukan sekadar bantuan jangka pendek, melainkan bagian dari langkah besar pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam program Asta Cita.
"Pupuk merupakan kebutuhan utama dalam budidaya pertanian. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani," pungkasnya. (hrs)
