KH. Mustain Nasoha: Kemenangan Idulfitri Bukan Sekadar Perayaan
Font Terkecil
Font Terbesar
BERITA SOLO | SURAKARTA — Suasana religius mewarnai pengajian umum yang digelar di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Surakarta, yang menghadirkan ulama muda Surakarta Dr. KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha sebagai penceramah utama.
Dalam tausiyahnya, Gus Mustain menyampaikan sembilan kunci dan ciri seseorang meraih hari kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan, 16 Maret 2026.
Pengajian tersebut berlangsung khidmat dan dipenuhi ratusan jamaah yang hadir dengan penuh antusias, berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku UMKM, organisasi kemasyarakatan (ormas), tokoh agama, hingga berbagai sektor masyarakat Kota Surakarta.
Kehadiran para jamaah dari beragam latar belakang tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat dalam mengikuti kajian keagamaan serta memperdalam pemahaman nilai-nilai spiritual, khususnya dalam momentum Ramadan.
Dalam ceramahnya, Gus Mustain menjelaskan bahwa kemenangan Idulfitri bukan sekadar perayaan, tetapi tercermin dari perubahan sikap dan kualitas ibadah seseorang setelah Ramadan.
Ia mengutip penjelasan para ulama dalam kitab Asrārut Ta’wīl wa Anwārut Tanzīl karya Imam Al-Baidhawi, yang menjelaskan bahwa tanda diterimanya amal ibadah seseorang adalah munculnya amal kebaikan setelahnya.
“Ramadan adalah madrasah spiritual. Jika Ramadan kita berhasil, maka dampaknya akan terlihat setelahnya. Bukan hanya saat Ramadan, tetapi bagaimana seseorang berubah menjadi lebih baik dalam ibadah dan akhlaknya,” ujar Gus Mustain.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan sembilan ciri seseorang yang berhasil meraih kemenangan setelah Ramadan, yaitu:
1. Lebih mampu meninggalkan ghibah. Menjaga lisan merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman. Hal ini dijelaskan oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin yang menegaskan bahwa ghibah termasuk dosa besar yang dapat merusak pahala amal.
2. Mampu melanjutkan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk. Tanda diterimanya amal adalah munculnya amal saleh setelahnya. Hal ini dijelaskan oleh Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya juga yang berjudul Latha’if Al-Ma’arif.
3. Lebih sabar ketika menghadapi musibah. Kesabaran merupakan salah satu tanda kuatnya iman. Penjelasan ini disebutkan oleh Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an.
4. Lebih istiqamah menjaga salat berjamaah. Keutamaan salat berjamaah dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab sebagai salah satu syiar penting dalam kehidupan umat Islam.
5. Lebih semangat membaca Al-Qur’an. Keutamaan membaca Al-Qur’an dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab Fadhail Al-Qur’an, bahwa orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an akan mendapatkan ketenangan dan keberkahan.
6. Lebih banyak berdzikir kepada Allah. Dzikir menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar.
7. Semakin menjaga kesucian diri dari hadas kecil maupun besar. Hal ini dijelaskan oleh Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain, bahwa thaharah merupakan syarat utama sahnya berbagai ibadah.
8. Semakin mencintai akhirat dan mengurangi kecintaan kepada dunia. Sikap zuhud terhadap dunia dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah.
9. Semakin ikhlas dalam setiap amal dan ibadah. Keikhlasan merupakan inti dari seluruh amal sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madarij As-Salikin.
Menurut Gus Mustain, sembilan hal tersebut merupakan indikator bahwa Ramadan benar-benar memberikan pengaruh positif dalam kehidupan seorang muslim.
“Jika setelah Ramadan kita menjadi lebih baik dalam ibadah, lebih sabar, lebih menjaga lisan, dan lebih dekat kepada Al-Qur’an, maka itu tanda bahwa Ramadan kita membawa keberkahan,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pengajian yang menghadirkan KH. Mustain Nasoha sebagai penceramah.
“Atas nama Pemerintah Kota Surakarta, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada KH. Mustain Nasoha yang telah memberikan tausiyah dan pencerahan kepada masyarakat. Beliau merupakan ulama muda yang energik dan memiliki perhatian besar terhadap pembinaan umat,” ujarnya.
Astrid juga menyampaikan bahwa dirinya memiliki kedekatan secara keilmuan dengan Gus Mustain.
“Saya secara pribadi merasa terhormat karena pernah belajar dan menjadi murid dari Gus Mustain Nasoha. Beliau tidak hanya menyampaikan ilmu dengan baik, tetapi juga memberikan teladan dalam menjaga istiqamah dalam berdakwah dan mendidik generasi muda,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Walikota yang terkenal dengan Srikandi Solo ini juga menegaskan bahwa Rumah Dinas Wakil Wali Kota Surakarta terbuka untuk masyarakat sebagai ruang kebersamaan.
“Rumah dinas wakil wali kota ini pada dasarnya adalah milik kita bersama. Siapapun yang ingin memanfaatkannya untuk kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, kami persilakan. Silakan digunakan untuk kegiatan pengajian, perayaan misa, ataupun kegiatan sosial dan keagamaan lainnya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk selalu terbuka melayani masyarakat.
“Saya selalu terbuka untuk dihubungi oleh masyarakat. Silakan menghubungi saya melalui telepon atau WhatsApp, atau mengundang saya dalam berbagai kegiatan masyarakat. InsyaAllah saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk hadir dan melayani masyarakat Kota Surakarta,” tambahnya.
Astrid berharap kegiatan keagamaan seperti pengajian tersebut dapat terus digelar dan menjadi sarana memperkuat nilai-nilai spiritual serta kebersamaan di tengah masyarakat Surakarta. (*)
