BREAKING NEWS

Tafsir Maariful Qur'an Surat Al-Qadr (Bagian 3): Turunnya Jibril dan Malaikat Membawa Ketetapan Ilahi


​SURAKARTA — Membahas keagungan Lailatul Qadr seakan tidak ada habisnya. Setelah menelusuri sejarah dan waktu terjadinya pada pembahasan sebelumnya, Tafsir Maariful Qur'an karya Mufti Muhammad Shafi kini mengajak kita menyelami peristiwa kosmis luar biasa yang terjadi pada malam kemuliaan tersebut.

​Surat Al-Qadr ayat 4 memberikan gambaran betapa sibuknya langit dan bumi pada malam itu. Lailatul Qadr ternyata menjadi momen di mana rombongan besar malaikat, yang dipimpin langsung oleh Malaikat Jibril, turun ke bumi. Lantas, apa misi utama para malaikat tersebut dan ketetapan apa yang mereka bawa? Berikut adalah telaah mendalam untuk kelanjutan seri tafsir Surat Al-Qadr ini.


​تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ


Tanazzalul-malā'ikatu war rūḥu fīhā bi'iżni rabbihim min kulli amr(in).

"Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan." (QS. Al-Qadr: 4)
​Turunnya Para Malaikat dan Ruh (Jibril)

​Firman Allah SWT pada ayat keempat ini secara gamblang memberikan penjelasan tentang siapa saja yang turun ke bumi pada Lailatul Qadr. Kata Ruh di sini merujuk secara khusus kepada pemimpin para malaikat, yakni Sayyidina Jibril ('Alaihis Salam).

​Sayyidina Anas (رض) meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Ketika Lailatul Qadr tiba, Jibril ('Alaihis Salam) turun ke bumi bersama rombongan besar malaikat, dan mereka semua mendoakan setiap hamba Allah, baik laki-laki maupun perempuan, yang sedang sibuk mendirikan shalat atau berzikir, agar senantiasa diberkahi oleh Allah." (Tafsir Mazhari).

​Membawa Ketetapan Ilahi dan Keselamatan

​Dalam frasa min kulli amr (untuk mengatur semua urusan/beserta segala ketetapan), penggunaan kata depan (preposisi) min di sini bermakna "bersama dengan" atau "membawa", sebagaimana yang terdapat pada Surat Ar-Ra'd ayat 11 (Yahfazhunahu min amrillah).

​Dengan demikian, ayat ini bermakna bahwa pada saat Lailatul Qadr, para malaikat turun membawa ketetapan (takdir) untuk segala sesuatu yang ditakdirkan terjadi pada tahun mendatang (mulai dari rezeki, umur, hingga takdir lainnya).

​Di sisi lain, beberapa ahli tafsir seperti Imam Mujahid dan lainnya berpendapat bahwa frasa min kulli amrin ini secara sintaksis (tata bahasa) berkaitan erat dengan kata salam (keselamatan/kedamaian) pada ayat berikutnya. Kata Amr sendiri bisa bermakna "segala sesuatu". 

Berdasarkan pendekatan ini, mereka menafsirkan pernyataan tersebut dengan makna yang lebih luas: Malam itu adalah malam yang penuh keselamatan dari segala macam bentuk keburukan, bahaya, dan bencana (Tafsir Ibnu Katsir).

Editor ■ Fatikha Fikriyatul Mudhi’ah
Posting Komentar