BREAKING NEWS

Tafsir Maariful Qur'an Surat Al-Qadr (Bagian Terakhir): Kedamaian Hingga Fajar dan Amalan Meraih Lailatul Qadr


​SURAKARTA — Mengakhiri telaah mendalam terhadap Surat Al-Qadr melalui kacamata Tafsir Maariful Qur'an karya Mufti Muhammad Shafi, sampailah kita pada ayat penutup yang memancarkan kesejukan. Setelah langit dan bumi dipenuhi oleh kehadiran para malaikat yang membawa ketetapan Ilahi, apa yang tersisa dari malam kemuliaan tersebut?

​Ayat kelima dari Surat Al-Qadr memberikan jaminan mutlak tentang kedamaian yang menyelimuti alam semesta. Menariknya, pada bagian penutup tafsir ini, Mufti Muhammad Shafi juga memaparkan pandangan ulama mengenai perbedaan zona waktu Lailatul Qadr di berbagai belahan dunia, serta sebuah amalan ringan, namun bernilai luar biasa bagi umat Islam untuk memastikan diri tetap meraih porsi keberkahan Lailatul Qadr. Berikut ulasan pamungkasnya.


سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ۝


salâmun hiya ḫattâ mathla‘il-fajr

"Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 5)

​Malam Kebaikan Tanpa Keburukan

​Firman Allah, "Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar," diawali dengan kata Salam (kesejahteraan/kedamaian). Kata ini berdiri sebagai sebuah kalimat sempurna yang bermakna bahwa malam tersebut sepenuhnya dipenuhi kedamaian, ketenangan, dan kebaikan mutlak, tanpa ada keburukan sedikit pun di dalamnya (Tafsir Al-Qurthubi).

​Sebagian ulama menempatkan kata Salamun sebagai penjelas lanjutan dari frasa min kulli amrin pada ayat sebelumnya. Berdasarkan pendekatan ini, maknanya adalah para malaikat turun membawa segala macam ketetapan yang semata-mata dipenuhi kebaikan dan kedamaian (Tafsir Mazhari).

​Ungkapan penutup hiya hatta mathla'il-fajr (malam itu sampai terbit fajar) menegaskan bahwa limpahan keberkahan Lailatul Qadr tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu saja (misalnya hanya di sepertiga malam terakhir). Rahmat tersebut mulai turun sejak tenggelamnya matahari dan terus berlangsung tanpa henti hingga fajar benar-benar menyingsing.

​Catatan Khusus: Siklus dan Zona Waktu Lailatul Qadr

​Al-Qur'an menegaskan bahwa Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan, yang nilainya setara dengan delapan puluh tiga tahun empat bulan. Mengingat setiap tahun selalu terdapat satu Lailatul Qadr, maka malam kemuliaan ini akan terus berulang dan berlipat ganda secara tak terhingga (ad infinitum). 

Oleh karena itu, sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa hitungan "lebih dari seribu bulan" pada malam tersebut tidak ikut menghitung malam-malam Qadar di tahun-tahun yang lain, sehingga hal ini tidak perlu menimbulkan kebingungan matematis (Tafsir Ibnu Katsir dari riwayat Mujahid).

​Di samping itu, karena adanya perbedaan letak geografis, waktu turunnya malam ini tentu bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Akibatnya, Lailatul Qadr tidak terjadi secara serentak di seluruh penjuru dunia pada detik yang sama. 

Hal ini sama sekali bukanlah sebuah masalah, karena umat Islam di setiap wilayah harus memperhitungkan, menghidupkan malam tersebut, dan menerima keberkahannya berdasarkan zona waktu geografis mereka masing-masing. Allahu a'lam bish-shawab (Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi lebih mengetahui kebenarannya).

​Hukum Fiqih: Kiat Mudah Meraih Lailatul Qadr

​Semakin banyak seseorang memperbanyak amal ibadah di malam ini, semakin melimpah pula keberkahan yang akan ia terima. Namun, syariat Islam yang penuh kasih sayang memberikan jalan keluar yang indah.

​Jika seseorang menunaikan shalat Isya dan Subuh secara berjamaah, ia sudah dipastikan akan menerima keberkahan dan ganjaran dari Lailatul Qadr. Tercatat dalam Shahih Muslim, Sayyidina Utsman bin Affan (رض) meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

​"Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka ia mendapatkan pahala seolah-olah menghidupkan separuh malam dengan ibadah; dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Subuh berjamaah, maka ia mendapatkan pahala seolah-olah menghidupkan semalam suntuk dengan ibadah." ​(Selesai - Alhamdulillah)

Editor ■ Fatikha Fikriyatul Mudhi’ah
Posting Komentar