BREAKING NEWS

Kisah Pasilambena Kepulauan Selayar: Laut, Tradisi, dan Kehidupan Multietnik yang Harmonis


BERITA SOLO | SELAYAR — Pagi baru saja datang di Kecamatan Pasilambena, sebuah wilayah kepulauan di Kabupaten Kepulauan Selayar. 

Dari kejauhan, suara mesin perahu nelayan mulai terdengar memecah tenangnya laut. Di beberapa sudut kampung, asap tipis mengepul dari dapur-dapur rumah warga yang sedang memasak santan kelapa untuk dijadikan minyak tradisional. 


Aroma khas kelapa yang dimasak di atas tungku kayu menyatu dengan angin laut yang berhembus pelan di antara rumah-rumah panggung masyarakat pesisir.

di wilayah kepulauan inilah kehidupan tumbuh dengan cara yang berbeda. Laut bukan sekadar hamparan air yang memisahkan pulau-pulau kecil, melainkan ruang hidup yang membentuk tradisi, pekerjaan, bahkan hubungan sosial masyarakatnya. 


Sejak lama, masyarakat Pasilambena hidup berdampingan dengan laut dan menjadikannya bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Nama ibu kota kecamatan diambil dari Pulau Takalambena, salah satu pulau yang berada di gugusan wilayah tersebut. 

Letaknya yang berada di kawasan kepulauan membuat masyarakat Pasilambena terbiasa hidup dalam mobilitas laut. 

Perahu menjadi sarana utama untuk menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya, membawa hasil laut, kebutuhan pokok, hingga cerita tentang kehidupan antar kampung.

Namun, Pasilambena bukan hanya tentang laut dan pulau-pulau kecil. Wilayah ini juga menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat dari latar belakang budaya yang berbeda. 

Komunitas Buton, Batu Atas, Ara, Tanaberu, masyarakat dari Bulukumba, serta penduduk asli Selayar hidup berdampingan dalam suasana yang harmonis di Desa Garaupa, Garaupa Raya, Karumpa, dan Pulo Madu, masyarakat Buton dan Batu Atas membangun kehidupan dengan tradisi maritim yang kuat. 

Sementara di Dusun Bonto-Bonto, Barumbung, dan Kawau, jejak masyarakat Ara dan Tanaberu masih terasa melalui keterampilan membuat perahu kayu yang diwariskan turun-temurun. 

Adapun masyarakat asli Selayar banyak bermukim di kawasan Latokdo Timur dan Latokdo Barat di Desa Kalao Toa.

Perbedaan latar belakang itu tidak menjadi sekat dalam kehidupan sosial masyarakat di pasar, di pelabuhan kecil, di kebun, hingga dalam kegiatan keagamaan, masyarakat hidup dalam hubungan yang akrab. 

Bahasa daerah yang berbeda terdengar silih berganti, tetapi tetap menyatu dalam keseharian masyarakat kepulauan.

Sebagian besar warga Pasilambena menggantungkan hidup dari laut. Nelayan berangkat sejak dini hari mencari ikan di perairan sekitar kepulauan. 

Sebagian lainnya bekerja sebagai pelaut yang berlayar antarpulau membawa barang dagangan maupun hasil bumi masyarakat.

Selain laut, kebun kelapa juga menjadi sumber kehidupan penting bagi warga, di banyak rumah, aktivitas membuat kopra dan minyak kelapa tradisional masih terus dilakukan. 

Perempuan-perempuan kampung duduk mengaduk santan di atas tungku, sementara tumpukan kelapa terlihat memenuhi halaman rumah. 

Tradisi itu telah berlangsung sejak lama dan tetap bertahan hingga sekarang.

Tidak hanya itu, sebagian masyarakat juga memiliki keterampilan mengolah kayu-kayu yang terdampar di pesisir menjadi kerajinan meja akar kayu dan berbagai karya bernilai seni. 

Kayu yang sebelumnya hanyut terbawa ombak diubah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi sekaligus keunikan tersendiri.

Di tengah kehidupan tradisional tersebut, perubahan sosial juga perlahan hadir di Pasilambena. 

Kini, banyak warga yang bekerja sebagai pedagang, guru, bidan, perawat, hingga pegawai negeri sipil di berbagai instansi pemerintahan. 

Kehadiran berbagai profesi itu menunjukkan bahwa masyarakat kepulauan terus berkembang tanpa kehilangan identitas budaya mereka.

Tradisi maritim tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, di beberapa kampung, suara ketukan kayu dari proses pembuatan perahu masih dapat terdengar. 

Para pengrajin kapal dengan teliti membentuk papan demi papan menjadi perahu yang akan digunakan untuk melaut dan berlayar antarpulau.

Keahlian membuat perahu diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak sedikit masyarakat yang mampu membaca arah angin, mengenali perubahan cuaca, hingga memahami arus laut hanya dari tanda-tanda alam. 

Pengetahuan itu menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat pesisir yang terus dijaga hingga sekarang.

Di tengah arus perkembangan zaman, masyarakat Pasilambena tetap mempertahankan nilai gotong royong, solidaritas sosial, dan penghormatan terhadap adat. 

Kehidupan multietnik yang tumbuh di wilayah kepulauan ini menjadi bukti bahwa keberagaman dapat hidup dalam harmoni.

Pasilambena pada akhirnya bukan hanya tentang gugusan pulau di selatan Sulawesi. 

Ia adalah cerita tentang manusia-manusia pesisir yang tumbuh bersama laut, menjaga tradisi, dan merawat kebersamaan di tengah keberagaman budaya yang hidup di wilayah kepulauan. (Fad)