BREAKING NEWS

Bagaimana Menjadi Seorang Muslim yang Kafah di Dunia Perkuliahan


Oleh: Muhammad Fadhil

Dunia perkuliahan menjadi fase hidup saya yang baru. Sejak TK sampai SMA, saya merupakan seorang siswa swasta di sekolah yang berbasis Sekolah Islam Terpadu. Ketika memasuki dunia perkuliahan yang berbasis negeri, banyak hal yang begitu berbeda. Perbedaan budaya, sistem pembelajaran, dan lingkungan sosial memberikan suatu culture shock bagi saya. Saya berpikir bagaimana cara saya menjadi seorang muslim yang kafah di lingkungan baru ini.

Islam Agama yang Kafah 

Muslim adalah sebutan bagi seseorang yang memeluk dan meyakini agama Islam, menjadi seorang muslim ditandai dengan pengucapan kalimat syahadat. Menjadi muslim saja tidaklah cukup, menjadi seorang muslim harus mengamalkan apa yang ia yakini, seorang muslim memiliki kewajiban mengamalkan 5 rukun Islam; syahadat sebagai kunci masuk Islam, salat sebagai bentuk penghambaan dan komunikasi kepada Allah SWT, zakat sebagai bentuk penyucian harta, Puasa sebagaimana yang disebutkan di dalam surah Al-Baqarah ayat 183 untuk menjadi orang yang bertakwa, dan Haji sebagai puncak rasa syukur dimana kita mampu secara fisik, finansial dan perjalanan. Apakah hanya itu saja dalam islam?

Islam adalah agama yang kafah, agama yang menyeluruh, Islam tidak hanya mengatur bagaimana kita beribadah, tetapi Islam juga mengatur akhlak, perilaku, ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan, lingkungan, hukum, keamanan, pertahanan, hukum, bahkan dari bangun tidur sampai tidur lagi agama ini ada pedomannya. Lalu bagaimana saya menjadi Muslim yang kafah di perkuliahan ini.

Meluruskan Niat dalam perkuliahan.

Dalam setiap fase kehidupan ini, tujuan akhir kita adalah kembali kepada Allah SWT. Menjadi seorang kafah dimulai dengan meluruskan niat kita. Kita belajar untuk Allah SWT, untuk menjalankan kewajiban kita sebagai seorang muslim, sebagaimana Hadits Rasulullah SAW:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ 


Artinya: “Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim (HR.Ibnu Majah).

Dalam hadits ini mencari ilmu atau belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan di dalam agama Islam, belajar merupakan suatu ibadah fardhu ain dimana setiap muslim wajib melaksanakannya seperti belajar ilmu agama atau ilmu yang akan digunakan dilaksanakan setiap hari, contohnya ilmu beribadah salat, ilmu kehidupan seperti membaca, bertransaksi, dan sebagainya. Belajar yang bersifat fardhu kifayah adalah belajar ilmu-ilmu yang spesifik tidak wajib semua orang mempelajarinya, namun wajib bagi umat ini ada yang mempelajarinya. Misal ilmu tafsir, ilmu kedokteran, ilmu keguruan, ilmu geografi, ilmu pemerintahan, dan sebagainya. 

Dalam hal niat, jika kita baru berniat kebaikan sudah dihitung sebagai 1 amalan kebaikan, dan jika sudah melakukannya akan dihitung 10 amalan kebaikan. Dalam niat keburukan, jika baru berniat tidak akan dihitung, dan jika dilakukan baru akan dihitung setara 1 amalan keburukan. Maka bayangkan jika kita baru berniat untuk belajar, kita sudah dihitung 1 amalan kebaikan, dan jika kita melaksanakannya maka akan dihitung 10 amalan kebaikan. 

Manajemen Ibadah di tengah Kesibukan.

Menjadi seorang muslim yang kafah, yakni mengamalkan ajaran Islam secara utuh mencakup akidah, syariah, dan akhlak, bukan setengah-setengah. Dalam hal ini adalah bagaimana kita sebagai seorang muslim dapat menjaga keistiqomahan ibadah seperti:

Pertama, mengusahakan salat tepat waktu dan berjemaah. Hal ini merupakan suatu tantangan terbesar bagi seorang muslim di dalam dunia perkuliahan, tidak ada yang membangunkan salat Tahajud, salat Subuh, tidak ada yang mengingatkan salat, jadwal kuliah maupun acara yang menembus waktu salat, bahkan rasa malas kita sendiri. Untuk menghadapi permasalahan ini kita butuh seseorang untuk mengingatkan, membangunkan, mengajak kita untuk salat, bisa teman maupun musyrif (wali di asrama) bagi yang tinggal dan menjadi santri di pesantren mahasiswa. Jika waktu kuliah menerobos waktu salat, menurut saya ini adalah alasan syari, karena ini adalah sesuatu yang berada diluar kendali, dan masih terdapat waktu salat yang panjang semisal dzuhur, sehingga bisa mendapatkan rukhsah (keringanan) yakni tidak salat tepat pada waktunya. Selain itu kita juga harus mengatur ritme tidur kita agar kita bisa bangun untuk salat Subuh.

Dan kedua, Mengusahakan membaca Al-Qur'an dengan target tertentu. Prinsip saya dalam membaca Al-Qur’an di dalam dunia perkuliahan adalah bukan mengisi waktu luang untuk membaca Al-Qur’an, tetapi meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Buatlah target membaca Al-Qur’an dengan target yang terukur, dapat berupa target secara kuantitas waktu, seperti membaca Al-Qur’an setelah salat Magrib selama 20 menit ataupun dapat berupa target kuantitas halaman seperti membaca Al-Qur’an 10 halaman dalam sekali duduk. 

Menjaga Nilai-Nilai Keislaman melalui Lembaga Dakwah Kampus atau Fakultas

Di dunia perkuliahan yang pergaulannya heterogen ini, saya mencoba menjaga nilai-nilai melalui lembaga dakwah fakultas. Dalam menjaga keimanan kita tidak bisa sendiri, iman itu fluktuatif dapat meningkat maupun menurun. Oleh karena itu, kita butuh komunitas untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.

 Selain itu mengapa saya masuk lembaga dakwah fakultas, karena ada kaidah yang saya pahami ”نَحْنُ دُعَاةٌ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ “ Kita adalah dai (penyeru agama) sebelum menjadi apa pun”. Mau besok kita menjadi apa dengan jabatan apapun, kita memiliki kewajian menyerukan syariat ini meski hanya satu ayat atau nasihat, sebagaimana sabda Rasulullah:


بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً, 


“Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat.” (HR. Bukhari no. 3461). 

Menyeimbangkan Akal dan Wahyu.

Manusia mendikotomi antara ilmu dunia dan ilmu agama, mengatakan bahwa mereka berbeda. Namun, saya meyakini bahwa setiap ilmu adalah ilmu milik Allah, karena Allah adalah Al-'Alim (Maha Mengetahui). Oleh karena itu saya berusaha menyeimbangkan antara ilmu dunia dan ilmu agama, ilmu agama sebagai petunjuk bagi saya dalam belajar ilmu dunia, karena jika tidak memahami dan mengamalkan ilmu agama, ilmu dunia dapat digunakan untuk suatu kemudharatan.

Menjadi Muslim yang Kafah.

Menjadi muslim yang kafah sebenarnya tidak harus kita menjadi seorang aktivis lembaga dakwah, kita bisa menjadi muslim yang kafah di kelas, di Unit kegiatan Mahasiswa, di perlombaan, dimanapun itu. Karena menjadi muslim yang kafah adalah bagaimana nilai-nilai keislaman tercermin pada cara berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak sebagai seorang mahasiswa. Bagi saya kampus tidak hanya sekadar mencari ijazah, namun bagi saya bagaimana saya bisa menjadi rahmatan lil alamin. (*)