BREAKING NEWS

Tafsir Maariful Qur'an Surat Al-Qadr (Bagian 2): Kapan Lailatul Qadr Terjadi dan Apa Doa Khususnya?


​SURAKARTA — Setelah memahami kedalaman makna Lailatul Qadr pada pembahasan sebelumnya, pertanyaan terbesar yang selalu mengiringi setiap bulan puasa adalah: kapan tepatnya malam penuh kemuliaan itu tiba?

​Melanjutkan kajian Tafsir Maariful Qur'an karya Mufti Muhammad Shafi, bagian kedua ini akan membedah secara tuntas ragam pendapat ulama mengenai tanggal pasti jatuhnya Lailatul Qadr. Tidak hanya itu, tafsir ini juga mengungkap rahasia keutamaan ibadah di malam tersebut, amalan doa khusus yang diajarkan Rasulullah ﷺ, hingga sejarah turunnya Al-Qur'an dan kitab-kitab suci terdahulu yang seluruhnya berpusat di bulan Ramadhan. Berikut ulasan lengkapnya.

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ 


Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr(i).

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar." (QS. Al-Qadr: 1)
​Kapan Terjadinya Lailatul Qadr?

​Al-Qur'an secara eksplisit menyatakan bahwa Malam Qadar terjadi di bulan Ramadhan yang penuh berkah, namun tanggal pastinya tidak diungkapkan. Akibatnya, hal ini menjadi perbincangan dan perdebatan di kalangan ulama. Terdapat sekitar empat puluh pendapat yang tercatat mengenai hal ini.

​Tafsir Mazhari menyatakan bahwa pendapat yang paling shahih (kuat) adalah Lailatul Qadr terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, meskipun tidak ada tanggal spesifik yang ditetapkan. Malam tersebut bisa jatuh pada salah satu dari malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir, yang letaknya dapat berganti-ganti (berotasi) dari tahun ke tahun. 

Berdasarkan hadits-hadits yang shahih, malam tersebut bisa jatuh pada salah satu dari malam-malam berikut: 21, 23, 25, 27, dan 29. Dengan pemahaman ini, seluruh hadits mengenai malam-malam ganjil yang tampaknya saling bertentangan dapat diselaraskan.

​Mayoritas ahli fiqih terkemuka, seperti Abu Qilabah, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, Sufyan Ats-Tsauri, Ishaq bin Rahawaih, Abu Tsawr, Al-Muzani, Ibnu Khuzaimah, dan lainnya, sepakat bahwa Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir secara bergantian setiap tahunnya. Imam Syafi'i memiliki dua pendapat: pada pendapat pertama beliau sejalan dengan mayoritas ulama, dan pada pendapat kedua beliau menyatakan bahwa malam tersebut tetap (tidak berpindah-pindah tanggalnya) (Tafsir Ibnu Katsir).

​Sayyidah Aisyah (رض) meriwayatkan sebuah hadits yang tercatat dalam Shahih Al-Bukhari, di mana Rasulullah ﷺ bersabda:


تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ


"Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan."

​Ibnu Umar meriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

فَالْطُلُبُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنْهَا


"Maka carilah ia pada malam-malam ganjil di antaranya (sepuluh hari terakhir)." 

​Keutamaan Malam Qadar dan Doa Khusus

​Keutamaan terbesar dari Malam Qadar disebutkan di dalam Surat ini sendiri, yakni bahwa amal ibadah yang dilakukan pada satu malam ini lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan (yang setara dengan delapan puluh tiga tahun empat bulan). 

Angka di sini, dan di tempat lain dalam Al-Qur'an, tidak semata-mata menunjukkan jumlah matematis yang presisi, melainkan untuk menegaskan jumlah yang sangat besar atau sangat tinggi. Hanya Allah semata yang mengetahui seberapa besar dan seberapa baik keutamaannya.

​Tercatat dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Sayyidina Abu Hurairah (رض) bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang menghidupkan Lailatul Qadr dengan ibadah kepada Allah, maka seluruh dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." Sayyidina Ibnu Abbas (رض) meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 

"Seluruh malaikat yang bermukim di Sidratul Muntaha akan turun di bawah pimpinan Sayyidina Jibril ('Alaihis Salam) dan memberikan salam kepada setiap mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali mereka yang meminum khamr (minuman keras) atau memakan babi." 

Riwayat lain menyebutkan bahwa siapa pun yang terhalang dari kebaikan Lailatul Qadr, maka pada hakikatnya ia telah terhalang dari segala bentuk kebaikan.

​Pada Lailatul Qadr, sebagian orang mungkin mengalami atau menyaksikan anwar (cahaya-cahaya rohani) yang khusus. Namun, perlu dicatat bahwa hal ini tidak dialami atau disaksikan oleh semua orang, dan melihat cahaya tersebut bukanlah syarat mutlak untuk mendapatkan keberkahan dan pahala Lailatul Qadr. 

Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu terlalu merisaukan apakah mereka melihat tanda-tanda fisik tersebut atau tidak.

​Sayyidah Aisyah (رض) pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai doa apa yang harus ia panjatkan jika ia mendapati Lailatul Qadr. Rasulullah ﷺ menasihatinya untuk memanjatkan doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي


(Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni)

"Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai kemaafan, maka maafkanlah (ampunilah) aku." (Tafsir Al-Qurthubi).

​Turunnya Al-Qur'an dan Seluruh Kitab Suci

​Ayat pertama, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar," menegaskan secara gamblang bahwa Al-Qur'an diturunkan pada Lailatul Qadr. Hal ini dapat dimaknai dalam dua pengertian:

1. Seluruh isi Al-Qur'an diturunkan pada malam ini dari Lauh Mahfuzh (ke langit dunia). Kemudian Sayyidina Jibril menurunkannya kepada Rasulullah ﷺ secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan dan peristiwa selama kurun waktu dua puluh tiga tahun; dan

2. Wahyu pertama, yang terdiri dari ayat-ayat awal Surat Al-'Alaq (Iqra'), terjadi di bulan Ramadhan bertepatan dengan Lailatul Qadr, ketika Rasulullah ﷺ sedang berkhalwat (menyendiri untuk beribadah) di Gua Hira. Sisa ayat Al-Qur'an kemudian diturunkan sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhan di berbagai kesempatan yang berbeda.

​Ternyata, seluruh kitab suci samawi diturunkan di bulan Ramadhan. Sayyidina Abu Dzar Al-Ghifari (رض) meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Suhuf (lembaran-lembaran suci) Nabi Ibrahim ('Alaihis Salam) diturunkan pada tanggal 3 Ramadhan; Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadhan; Injil diturunkan pada tanggal 13 Ramadhan; Zabur diturunkan pada tanggal 18 Ramadhan; dan Al-Qur'an diturunkan pada tanggal 24 Ramadhan." (Tafsir Mazhari).

Editor ■ Fatikha Fikriyatul Mudhi’ah
Posting Komentar