BREAKING NEWS

Tafsir Maariful Qur'an Surat Al-Qadr (Bagian 1): Asbabun Nuzul dan Makna Ganda Lailatul Qadr


​SURAKARTA — Memasuki fase akhir dari bulan suci Ramadhan, umat Islam tidak hanya diwajibkan untuk menyempurnakan ibadah puasa, tetapi juga dianjurkan untuk mengejar sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan: Lailatul Qadr.

​Mengapa malam ini begitu istimewa dan apa sebenarnya makna di balik kata "Qadr" tersebut? Melalui kacamata Tafsir Maariful Qur'an karya Mufti Muhammad Shafi, kita akan menyelami kedalaman Surat Al-Qadr. Pada bagian pertama ini, kita akan mengupas sejarah turunnya ayat (Asbabun Nuzul) yang berawal dari kisah takjub para Sahabat terhadap seorang ksatria Bani Israil, serta rahasia di balik penamaan Lailatul Qadr. Berikut ulasannya.


​اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ


Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr(i).

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar." (QS. Al-Qadr: 1)
​Sebab Turunnya Ayat (Asbabun Nuzul)

​Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mujahid (sebagai hadits mursal) bahwa Rasulullah ﷺ pernah diberitahu tentang seorang mujahid (pejuang di jalan agama) dari kalangan Bani Israil yang memanggul senjata perangnya selama seribu bulan, di mana selama kurun waktu tersebut ia tidak pernah meletakkan senjatanya.

​Para Sahabat sangat takjub ketika mendengar kisah ini. Pada saat itulah Surat ini diturunkan, yang menjelaskan bahwa ibadah pada Lailatul Qadr yang dianugerahkan kepada umat ini (umat Muhammad) nilainya melampaui lebih dari seribu bulan jihad yang dilakukan secara terus-menerus oleh pejuang tersebut.

​Menurut riwayat lain dari Mujahid yang dikutip oleh Ibnu Jarir, seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil biasa beribadah kepada Allah sepanjang malam, dan segera setelah fajar menyingsing, ia akan mempersenjatai dirinya dan berperang sepanjang hari. Rutinitas ini berlangsung secara berturut-turut selama seribu bulan. Maka Surat ini pun diturunkan. Hal ini menunjukkan keunggulan dan keutamaan umat Nabi Suci ﷺ, dan bahwa Lailatul Qadr adalah keistimewaan khusus yang hanya diberikan kepada umat ini (Tafsir Mazhari).

​Makna Malam Qadr

​Salah satu makna dari kata Qadr adalah keagungan, kehormatan, atau kemuliaan. Imam Az-Zuhri dan para ulama lainnya telah menetapkan makna ini untuknya. Malam tersebut disebut Lailatul Qadr karena ini adalah malam yang penuh keagungan, kehormatan, kebesaran, dan kemuliaan. Abu Bakar Al-Warraq menyatakan bahwa malam ini dinamakan demikian karena seseorang bisa menjadi manusia yang terhormat dan mulia berkat pertobatan, permohonan ampun, dan amal salehnya di malam ini, padahal sebelumnya ia mungkin tidak memiliki kehormatan dan kemuliaan akibat kehidupan buruk yang ia jalani.

​Makna lain dari kata Qadr adalah takdir (ketetapan). Dari sudut pandang ini, malam tersebut dinamakan demikian karena takdir takdir individu dan bangsa yang telah diputuskan di zaman azali, diserahkan kepada para malaikat terkait yang ditugaskan untuk mengatur urusan alam semesta. Umur, kematian, rezeki, curah hujan, dan hal-hal lain dari setiap manusia ditakar (ditetapkan) kepada para malaikat untuk diimplementasikan selama satu tahun penuh, dari satu bulan Ramadhan ke bulan Ramadhan berikutnya. Jika seseorang ditakdirkan untuk menunaikan ibadah haji pada tahun mendatang, maka hal itu akan dicatat padanya. Menurut Ibnu Abbas (رض), ada empat malaikat utama yang bertugas mengatur urusan semesta: [1] Israfil; [2] Mikail; [3] Izrail; dan [4] Jibril 'Alaihimus Salam.

​Hal ini secara jelas dinyatakan dalam Surat Ad-Dukhan ayat 3-5:

"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul."

​Lailatun Mubarakah atau malam yang diberkahi, menurut pandangan mayoritas mutlak ulama tafsir Al-Qur'an, merujuk pada Lailatul Qadr. Para malaikat mencatat dan turun membawa apa pun yang telah Allah takdirkan atau tetapkan untuk tahun yang akan datang. Sebagian ulama berpendapat bahwa malam yang diberkahi pada Surat Ad-Dukhan ayat 3 tersebut merujuk pada malam kelima belas bulan Sya'ban, yakni Lailatul Bara'ah (Malam Nisfu Sya'ban/Malam Pengampunan).

​Pandangan ini dapat diselaraskan dengan pendapat pertama dengan memahaminya bahwa: Ketetapan Ilahi tahap awal diputuskan pada Lailatul Bara'ah, namun rincian catatan tersebut baru diserahkan kepada para malaikat yang bertugas pada saat Lailatul Qadr. Hal ini didukung oleh riwayat Ibnu Abbas yang dicatat oleh Al-Baghawi berdasarkan otoritas Abud-Duha, yang menyatakan bahwa Allah menetapkan seluruh urusan alam semesta pada Lailatul Bara'ah, namun ketetapan itu baru diserahkan kepada para malaikat terkait pada saat Lailatul Qadr (Tafsir Mazhari).

Editor ■ Fatikha Fikriyatul Mudhi’ah
Posting Komentar