Perlukah Merayakan Valentine Day?
Font Terkecil
Font Terbesar
BERITA SOLO ■ Setiap tanggal 14 Februari, ada sebagian anak muda suka merayakan Valentine Day. Menurut mereka, ini adalah momen yang banyak ditunggu, namun tidak wajib, tergantung nilai dan keyakinan masing-masing.
Pasalnya, ada sekat adab dan budaya di negeri ini yang menjadikan agenda Valentine Day tidak bisa diterima banyak kalangan.
Mari kita lihat dari beberapa sudut pandang. Dari sisi umum (budaya dan sosial), Valentine sering dipahami sebagai Hari untuk mengungkapkan kasih sayang, Momen memberi hadiah atau perhatian dan sebagian diantaranya menjadikan ajang mempererat hubungan pasangan.
Kalau dimaknai sebatas hari kasih sayang, sebenarnya nilai cintanya itu positif.
Dari sisi budaya dan agama (khususnya di Indonesia), sebagian orang memilih tidak merayakan karena dianggap berasal dari tradisi Barat / non-Islam. Ada kekhawatiran yang mengarah pada pergaulan bebas.
Sementara sebagian diantaranya tidak ingin ikut-ikutan budaya luar.
Sebagian lainnya berpendapat, selama isinya positif (misalnya kasih sayang suami-istri, keluarga), tidak masalah. Sebab tidak ada kewajiban agama untuk merayakan atau melarang secara mutlak.
Yang lebih penting dari sekadar tanggal, kasih sayang sebenarnya tidak harus satu hari saja. Bisa ditunjukkan setiap hari. Lebih bermakna lewat tindakan, bukan simbol
Jadi, perlu atau tidak?
✔ Jika sesuai dengan nilai pribadi dan dilakukan secara positif → silakan.
✔ Jika merasa tidak cocok atau bertentangan dengan keyakinan → tidak perlu.
Yang paling penting bukan 14 Februari-nya, tapi bagaimana kita mempraktikkan cinta dengan cara yang baik dan bertanggung jawab.
Sebenarnya apanya sih yang menarik dari Valentine? Ini dia yang bikin banyak orang tetap suka.
1. Ada “alasan resmi” buat jadi romantis. Kadang orang itu sayang, tapi gengsi atau nggak terbiasa mengungkapkan. Valentine jadi semacam “momen aman” buat bilang aku sayang kamu tanpa canggung.
Yang jarang ngucap cinta pun jadi punya alasan.
2. Bikin hubungan terasa “diurus”
Hadiah kecil, surat, cokelat, atau cuma traktir makan, itu bukan soal barangnya, tapi pesan di baliknya “Kamu penting buat aku.”. Perhatian kecil kayak gini sering bikin pasangan merasa dihargai.
3. Suasana beda dari hari biasa
Dekorasi, promo, bunga, nuansa pink merah di mana-mana, secara psikologis bikin orang kebawa mood hangat dan manis. Rasanya kayak ada “festival cinta” versi mini.
4. Bukan cuma buat pasangan
Banyak yang sekarang rayakan sebagai kasih sayang ke orang tua, sahabat, anak, bahkan ke diri sendiri (self-love).
Jadi maknanya meluas, nggak melulu pacaran.
5. Manusia suka simbol dan momen
Kita ini makhluk yang suka “penanda waktu” ulang tahun, lebaran, tahun baru. Valentine jadi simbol khusus untuk tema cinta dan perhatian.
Tapi sejujurnya… Yang bikin menarik itu bukan tanggalnya. Yang bikin menarik itu perasaan dihargai dan diperhatikan. Tanpa itu, Valentine cuma jadi jualan cokelat.
■ Fitri Wulandari
