SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta Laksanakan Kunjungan Ilmiah ke Ponpes Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta
Font Terkecil
Font Terbesar
BERITA SOLO ■ SURAKARTA — Boarding School dan keluarga besar SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta melaksanakan kegiatan study banding ke Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat nilai edukatif, baru-baru ini.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan mutu pendidikan, khususnya dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis pesantren pada program tahfidz, pembinaan karakter, serta penguatan nilai-nilai keislaman di lingkungan sekolah berasrama (boarding school).
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dengan Qiraat Sab’ah oleh Ahmad Mukhibullah Al Hafidz, yang berlangsung khidmat dan memberikan nuansa religius sejak awal kegiatan.
Selanjutnya, rangkaian sambutan disampaikan oleh para tokoh dari kedua lembaga. Lurah Pondok Pesantren, Muhammad Hadziq Maftuh, dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi antar lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam penyampaiannya, beliau tidak hanya berbicara secara konseptual, tetapi juga menguatkan pesan-pesannya dengan mengutip nasehat para guru dan ulama dari kitab-kitab turats (kitab kuning) yang mu’tabar. Beliau menegaskan bahwa kekuatan pendidikan Islam terletak pada kesinambungan sanad keilmuan serta keberkahan ilmu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui kutipan-kutipan tersebut, beliau mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sistem, tetapi oleh ketulusan dalam belajar, penghormatan kepada guru, serta kesungguhan dalam mengamalkan ilmu.
Oleh karena itu, sinergi antar lembaga pendidikan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga harus dibangun di atas nilai keilmuan, adab, dan ruh perjuangan para ulama terdahulu.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Ketua Yayasan, Wassim Ahmad Fahruddin, yang dalam sambutannya menekankan bahwa pembangunan sistem pendidikan yang berkelanjutan harus ditopang oleh integrasi yang kuat antara dimensi spiritual dan intelektual.
Menurutnya, pendidikan Islam tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata, tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai transendental yang membentuk kepribadian utuh peserta didik.
Ia menegaskan bahwa keseimbangan antara kecerdasan intelektual (intellectual quotient), kecerdasan emosional (emotional quotient), dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient) merupakan fondasi utama dalam mencetak generasi yang adaptif, berintegritas, serta memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi di tengah dinamika global.
Sementara itu, perwakilan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, Alvin Al Haq Sirothi, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas sambutan hangat yang diberikan oleh pihak pesantren.
Dalam perspektifnya, kegiatan study banding ini memiliki nilai strategis sebagai medium pertukaran pengetahuan (knowledge exchange) dan praktik terbaik (best practices) dalam pengelolaan pendidikan berbasis nilai keislaman.
Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi antar lembaga pendidikan menjadi keniscayaan di era modern, di mana tantangan pendidikan tidak lagi bersifat lokal, melainkan global dan multidimensional. Oleh karena itu, sinergi yang dibangun melalui forum seperti ini diharapkan dapat melahirkan inovasi pendidikan yang kontekstual, relevan, dan berdaya saing.
Dalam kesempatan yang sama, Manager Al Azhar Yogyakarta Boarding School, Muhammad Iqbal Ghozali, M.H.I., menyampaikan bahwa pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian santri. Menurut beliau, pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi juga tempat membentuk adab, membiasakan ibadah, dan menata hati.
Beliau menegaskan bahwa di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, pesantren tetap menjadi tempat yang kokoh untuk menjaga nilai-nilai keislaman. Di pesantren, santri tidak hanya diajarkan pengetahuan, tetapi juga dibimbing untuk hidup disiplin, menghormati guru, serta memiliki tanggung jawab dalam kehidupan.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa sistem boarding school yang dipadukan dengan nilai-nilai pesantren menjadi kekuatan tersendiri dalam pendidikan. Dengan tinggal bersama dalam lingkungan yang terjaga, santri dapat belajar secara langsung, tidak hanya dari pelajaran di kelas, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari.
Beliau berharap, melalui kerja sama dan saling belajar seperti ini, lembaga pendidikan dapat bersama-sama mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak baik, kuat iman, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Puncak kegiatan diisi dengan penyampaian nasehat serta pemberian ijazah oleh pengasuh pondok pesantren, Ahmad Muhamad Mustain Nasoha. Dalam tausiyahnya, beliau menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada aspek kognitif semata, tetapi harus mampu membentuk akhlak, memperkuat spiritualitas, serta menumbuhkan tanggung jawab sosial peserta didik.
Selain itu, beliau juga membagikan tips-tips praktis dalam menghafalkan Al-Qur’an, di antaranya pentingnya menjaga keistiqamahan, memperbaiki niat, serta membangun kedekatan dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Menurut beliau, keberhasilan dalam menghafal tidak hanya ditentukan oleh kemampuan, tetapi oleh kesungguhan hati dan keberkahan dalam prosesnya.
Dalam kesempatan tersebut, beliau turut memberikan ijazah dari beberapa kitab kuning sebagai bentuk transmisi keilmuan yang menjadi tradisi pesantren. Ijazah ini tidak hanya bermakna pemberian izin untuk mengamalkan atau mengajarkan, tetapi juga sebagai simbol sanad keilmuan yang tersambung kepada para ulama terdahulu.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa seluruh ilmu pengetahuan, termasuk sains modern, pada hakikatnya tidak terlepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga sumber inspirasi bagi perkembangan ilmu dan peradaban manusia.
Kegiatan study banding ini diharapkan dapat menjadi momentum strategis dalam memperluas wawasan, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mempererat ukhuwah Islamiyah antar lembaga. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi yang berkelanjutan dalam pengembangan pendidikan berbasis nilai dan karakter. (*)
