Tafsir Maariful Qur'an Al-Baqarah 186: Kedekatan Allah dan Mustajabnya Doa Saat Berbuka Puasa
Font Terkecil
Font Terbesar
Dalam rangkaian ayat-ayat Al-Qur'an yang membahas tentang syariat puasa Ramadhan, terdapat satu sisipan ayat yang sangat menggugah hati, yakni Surat Al-Baqarah ayat 186. Uniknya, ayat ini tidak berbicara tentang hukum fiqih, melainkan tentang betapa dekatnya Allah SWT dengan hamba-hamba-Nya.
Mengapa ayat tentang kedekatan Allah dan terkabulnya doa ini diletakkan tepat di tengah-tengah pembahasan mengenai puasa dan i'tikaf? Melalui kacamata Tafsir Maariful Qur'an karya Mufti Muhammad Shafi, kita diajak untuk memahami rahasia kasih sayang Allah (Ar-Rahman). Puasa yang menuntut pengorbanan fisik dan menahan hawa nafsu diimbangi dengan janji istimewa: bahwa keluh kesah dan doa orang yang berpuasa didengar langsung oleh Sang Pencipta. Berikut adalah telaah mendalam mengenai keutamaan doa di bulan Ramadhan berdasarkan tafsir tersebut.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Artinya: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran."
Allah Begitu Dekat dengan Hamba-Hamba-Nya
Perintah dan keutamaan mengenai ibadah puasa serta bulan Ramadhan telah disebutkan pada tiga ayat sebelumnya. Rangkaian pembahasan ini bahkan terus berlanjut setelah ayat ini, di mana rincian mengenai syariat puasa dan i'tikaf (berdiam diri di masjid) muncul dalam sebuah ayat yang panjang (ayat 187).
Di sela-sela pembahasan yang padat tersebut, ayat yang singkat ini dihadirkan dengan tujuan untuk memotivasi hamba-hamba Allah agar senantiasa menaati perintah-perintah-Nya. Caranya adalah dengan menyadarkan mereka tentang bagaimana Allah—melalui rahmat-Nya yang khusus—mendengar dan mengabulkan doa-doa mereka. Tidak diragukan lagi bahwa puasa adalah sebuah kewajiban yang cukup berat meskipun di dalamnya telah diberikan banyak keringanan dan kemudahan.
Untuk menjadikan ujian menahan hawa nafsu ini terasa lebih ringan, rahmat khusus tersebut disebutkan melalui firman-Nya: inni qarib (Sesungguhnya Aku dekat dengan hamba-hamba-Ku). Ketika mereka berdoa, Aku mengabulkan doa mereka dan memenuhi apa yang mereka butuhkan. Dengan jaminan kedekatan dan terkabulnya doa ini, sudah sepantasnya para hamba Allah bersabar menanggung segala kesulitan fisik yang datang saat melaksanakan perintah-perintah yang telah ditetapkan.
Keistimewaan Berdoa di Waktu Berbuka (Iftar)
Ahli tafsir terkemuka, Ibnu Katsir, telah menunjukkan hikmah lain di balik munculnya kalimat ini di pertengahan ayat-ayat tentang perintah berpuasa. Menurut beliau, posisi ayat ini memberikan isyarat kuat bahwa doa yang dipanjatkan pada saat penyelesaian puasa (waktu berbuka) sangat diijabah (dikabulkan). Oleh karena itu, seseorang harus sangat bersungguh-sungguh dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk memanjatkan doa pada momen tersebut. Nabi Suci ﷺ bersabda:
لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ
"Bagi orang yang berpuasa, pada saat ia berbuka terdapat doa yang mustajab (tidak ditolak)."
Inilah sebabnya mengapa Sahabat yang mulia, Abdullah bin Umar (رض), memiliki kebiasaan selalu mengumpulkan seluruh anggota keluarganya di sekelilingnya menjelang waktu berbuka puasa, lalu mereka akan berdoa bersama-sama.
Adab dan Hukum Berdoa
Melalui penegasan firman inni qarib (Sesungguhnya Aku dekat) dalam ayat ini, terdapat isyarat bahwa doa hendaknya dipanjatkan dengan suara yang lirih, lembut, dan tenang. Meninggikan suara secara berlebihan atau berteriak saat berdoa adalah adab yang tidak disukai.
Hal ini dikonfirmasi oleh latar belakang (asbabun nuzul) diturunkannya ayat ini. Menurut Ibnu Katsir, seorang Arab Badui (penduduk desa) datang dan bertanya kepada Nabi Suci ﷺ: "Katakan kepadaku, apakah Tuhan kita itu dekat dengan kita, sehingga kami cukup berdoa dengan suara lirih; ataukah Dia jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya dengan suara keras?" Merespons pertanyaan tersebut, turunlah ayat ini untuk menegaskan kedekatan Allah dengan hamba-Nya yang berdoa.(*)
EDITOR ■ Fatikha Fikriyatul Mudhi’ah

