BREAKING NEWS

Seno Joko Suyono dari Tempo ke Borobudur Writers and Cultural Festival


BERITA SOLO | SURAKARTA — Seno Joko Suyono tak hanya dikenal sebagai wartawan kebudayaan Majalah TEMPO sejak tahun 1996. 

Lebih 10 belakangan ini, lelaki kelahiran Malang, 1970, yang mendalami filsafat di UGM dan Driyarkara, arkeologi di pasca-sarjana FIB UI, namanya selalu dikaitkan dengan  Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF). 

Pada tahun 2012 Seno, menggagas dan mendirikan BWCF bersama Romo Muji Sutrisno, SJ.(alm), Imam Muhtarom dan Yuke Darmawan. Sampai sekarang, ia menjadi salah satu kurator, merangkap pencari dana setiap BWCF digelar. Ia juga menjadi pengelola borobudurwriters .id

Melalui BWCF, Seno membangun ruang perjumpaan lintas iman, profesi, dan generasi bagi penulis, budayawan, aktivis, serta komunitas kreatif dari berbagai daerah dan negara. 

Kegiatan dalam memajukan kebudayaan itulah yang kemudian mengantar Seno  meraih Trofi Abyakta, Anugerah Kebudayaan PWI Pusat pada puncak Hari Pers Nasional 2026, di Serang Banten, 9 Februari 2026. 

"Semoga penghargaan ini, menjadi ‘vitamin’ Mas Seno agar tambah semangat menggelar BWCF. Juga membuka kesadaran para pihak untuk mengulurkan tangan,” tutur Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono, merangkap Ketua Dewan Juri AK PWI 2026. 

BWCF mengadakan festival tahunan dengan tema-tema seputar arkeologi dan filologi. Di samping festival, Seno juga mengembangkan BWCF dengan merancang program-program pendamping festival antara lain Workshop Jurnalisme Heritage/ Arkeologi yang pernah diselenggarakan di situs Liyangan, Temanggung Jawa Tengah. 

Program lain yang dikembangkan oleh Seno adalah Borobudur Meditation Forum, sebuah program meditasi di stupa Borobudur yang dibimbing oleh para Bhante Buddha lintas mazhab. 

Nah, untuk bisa menggelar BWCF secara ajek setiap tahun, dengan dana yang relatif besar, Seno dkk. Tak lelah bergerilya. 

Ketika mendapat bantuan dari kementerian terkait, dia bisa bernafas lega. Namun ketika kucuran pemerintah berhenti, seperti tahun 2025, terpaksa merogoh kocek sendiri; pesangon pensiunan dari Tempo.  

EKONOMI KREATIF

Seno yang mengajar kritik teater dari sejarah teater di Prodi Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengatakan BWCF memiliki kontribusi signifikan terhadap upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan serta memberi dampak langsung memberi kepada publik.

BWCF, misalnya, ikut berperan dalam pelestarian nilai dan warisan budaya, yaitu mengangkat tema-tema yang berakar pada kearifan lokal, sejarah, dan spiritualitas Nusantara. Misalnya,  ajaran Borobudur, tradisi lisan, naskah kuno, dan kebudayaan agraris. 

Selain itu, BWCF menjadikan Borobudur sebagai ruang refleksi budaya dan spiritual, sehingga nilai-nilai warisan leluhur tetap hidup dalam konteks modern.

“Masyarakat pun bisa merasakan dampak dari kegiatan-kegiatan  BWCF dalam bidang ekonomi kreatif. Kegiatan festival ini, telah menarik wisatawan budaya  yang berdampak ekonomi bagi masyarakat sekitar Candi Borobudur atau situs lainnya tempat berlangsungnya kegiatan BWCF,” tandasnya.

Kegiatan ini mendorong pelaku ekonomi kreatif lokal seperti pengrajin, seniman, penerbit, dan kuliner tradisional untuk berpartisipasi dalam ekosistem festival. Hal itu dapat memperluas jaringan kerja sama antara komunitas budaya, lembaga pemerintah, dan sektor swasta.

Dampaknya juga dirasakan langsung oleh komunitas lokal. Masyarakat sekitar Borobudur dan situs lainnya lokasi pelaksanaan BWCF dapat berpartisipasi langsung dalam penyelenggaraan acara entah melalui penyediaan akomodasi, kuliner, transportasi, maupun  pementasan seni tradisi. 

Pada gilirannya, festival tahunan ini juga dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap situs Borobudur dan situs lainnya lokasi pelaksanaan BWCF sebagai pusat kebudayaan yang hidup, bukan hanya objek wisata atau benda mati.

Dampak lainnya, kegiatan  BWCF telah meberikan penguatan nilai spiritual dan humanistik. Melalui meditasi, pembacaan teks kuno, atau kegiatan reflektif lain, publik diajak untuk memahami nilai kemanusiaan, kebersahajaan, dan harmoni dengan alam.

Akhirnya, kegiatan BWCF juga mendorong kesadaran akan pentingnya kehidupan yang seimbang antara intelektual, emosional, dan spiritual.(AK/PWI)

Posting Komentar