BREAKING NEWS

Akar Bambu Jadi Solusi, Petani Kadipiro Sragen diperkenalkan Pembuatan PGPR Ramah Lingkungan


BERITA SOLO ■ SRAGEN - Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) akar bambu dilaksanakan di rumah Bapak Mardono, ketua Kelompok Tani Sri Makmur, Desa Kadipiro, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen (30/2/2026). 

Kegiatan yang dihadiri perwakilan Gapoktan, Amrih Utomo, di Desa Kadipiro ini menjadi langkah edukatif dalam mengenalkan pupuk hayati berbasis mikroorganisme lokal sebagai solusi permasalahan pertanian.


Desa Kadipiro yang berada di kaki Gunung Lawu memiliki potensi agroekologis yang mendukung budidaya tanaman pangan dan palawija. Namun, para petani menghadapi permasalahan dalam beberapa tahun terakhir yang ditandai dengan penyakit bercak coklat pada daun padi yang berdampak pada terganggunya proses fisiologis tanaman yang menyebabkabn gejala kerdil pada tanaman padi. 

Penggunaan pupuk kimia dengan dosis dan frekuensi tinggi turut mengakibatkan berkurangnya populasi mikroorganisme antagonis terhadap pathogen di dalam tanah.


PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) diperkenalkan sebagai bakteri menguntungkan yang hidup di daerah perakaran (kelompok Rhizobacteria) berfungsi meningkatkan pertumbuhan tanaman sekaligus menekan patogen penyebab penyakit. 

Akar bambu dipilih sebagai bahan utama karena mengandung mikroorganisme lokal seperti Bacillus sp. dan Pseudomonas sp. yang berperan sebagai biofertilizer, biostimulan, serta agen antagonis alami bagi patogen tanaman.

Selama kegiatan sosialisasi berlangsung, petani menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap materi yang disampaikan. Beberapa peserta menyampaikan bahwa mereka telah memanfaatkan pupuk organik cair (POC) dari sisa sayuran dan buah-buahan untuk menunjang pertanian. 

Potensi bahan alam lain yang tersedia melimpah di sekitar desa belum banyak dimanfaatkan, seperti akar bambu, alang-alang, serai, dan rumput gajah. Informasi ini menjadi titik awal pengenalan inovasi berbasis sumber daya lokal yang lebih beragam.

Demonstrasi pembuatan dilakukan secara langsung mulai dari penyiapan bahan, proses perendaman, hingga tahap fermentasi. Peserta memperhatikan ciri-ciri fermentasi yang berhasil, seperti aroma khas tape yang tidak menyengat dan terbentuknya lapisan mikroorganisme pada permukaan larutan. 

Proses ini memberikan gambaran praktis mengenai tahapan produksi pupuk hayati yang sederhana dan dapat dilakukan secara mandiri.

Suasana kegiatan semakin hidup ketika petani muda, Bapak Kholis, dengan berbagi pengalamannya menjelaskan pemembuatan PGPR. Beliau menjelaskan bahwa fermentasi yang optimal sebaiknya berlangsung lebih dari 2–3 minggu. 

Gas yang masih keluar dari wadah menandakan larutan masih bersifat masam. Larutan yang akan diaplikasikan ke lahan perlu berada dalam kondisi netral agar aman bagi tanaman.

Antusiasme peserta terlihat dari perhatian dan keterlibatan mereka selama kegiatan. Bahan yang mudah diperoleh serta proses yang relatif sederhana menjadi daya tarik utama. 

Kegiatan ini diharapkan mendorong petani Desa Kadipiro untuk memproduksi pupuk hayati secara mandiri, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis, serta mendukung sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dan dapat mengurangi ketergantungan pada saprodi kimia sintetis, memperbaiki kualitas tanah, serta mendukung sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.

■ Tim KKN UNS 2026 Kelompok 138 Kadipiro)

Byline: Fifi Silfindya (Prodi S-1 Agroteknologi , FP, UNS Angkatan 2022)
Posting Komentar