BREAKING NEWS

Mengulas Buku Kisah Sukses Si Anak Desa, Rekam Jejak Dr. Haryono Membedah Filosofi Nggending dan Tiga Trilogi Karakter


BERITA SOLO | KARANGANYAR — Sebuah karya inspiratif resmi diluncurkan ke tengah masyarakat membawa sebuah rekam jejak perjuangan hidup yang mendalam dan sarat akan keteladanan. Buku berjudul Kisah Sukses Si Anak Desa yang ditulis oleh Hamdani M.W ini merangkum secara utuh perjalanan sepanjang lima puluh enam tahun kehidupan Dr. H. Haryono, S.E., M.M. 

Momentum peluncuran yang berlangsung apik dan meriah di Pendopo Adi Luhung, Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, pads Minggu (24/5) malam tersebut dikemas secara istimewa dan luhur. Peluncuran buku ini berbarengan dengan lantunan tembang dhandhanggula, menandai hadirnya sebuah literatur motivasi yang digali dari pengalaman nyata seorang putra daerah asal Sukoharjo.

Melalui untaian bab yang dikemas dalam lima belas fragmen kehidupan, buku ini menyajikan narasi perjalanan yang bergerak dari titik paling bawah hingga mencapai puncak keberhasilan profesional. Lembar-lembar awal buku membawa pembaca menyelami masa kecil narasumber yang penuh dinamika, mulai dari Fragmen Satu yang mengisahkan awal perjuangan bermula dari kaleng infaq, kepiawaian berkendara sejak bangku sekolah dasar, hingga dinamika batin saat merasa seperti anak tiri serta momen krusial ketika sang ayah berada di titik nol. 

Dinamika tersebut berlanjut pada fase kedewasaan yang penuh tantangan, termasuk bagaimana ia bangkit dari kegagalan, strategi menghadapi dilema besar antara tuntutan karier dan keutuhan keluarga yang sempat diwarnai ancaman perceraian, hingga keputusannya untuk pulang kandang demi melakukan pembenahan di tanah kelahiran.

Sebagai seorang profesional yang telah berkecimpung selama puluhan tahun di industri keuangan, tokoh utama dalam buku ini menumpahkan seluruh sari pati kepemimpinannya pada bagian akhir fragmen. Pembaca disuguhkan ulasan mendalam mengenai filosofi nggending yang menjadi landasan kepemimpinannya, tiga pilar utama dalam mengelola organisasi, hingga pemetaan lima tipe karyawan ala Haryono. 

Tidak hanya itu, buku ini juga membedah pentingnya menjaga netralitas serta penerapan pola kepemimpinan situasional dalam mengarahkan sebuah lembaga akomodatif agar tetap berprestasi dengan menjunjung tinggi budi pekerti.

Selayang pandang mengenai sosok Dr. H. Haryono, S.E., M.M. sendiri memperlihatkan latar belakang akademik dan profesional yang sangat kuat. Lulusan terbaik dan tercepat Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Slamet Riyadi Surakarta tahun 1994 ini merupakan peraih Beasiswa Supersemar dan Beasiswa Mahasiswa Berprestasi Utama, yang kemudian menuntaskan studi magister di kampus yang sama serta meraih gelar doktor ilmu ekonomi dari Untag Surabaya. 

Berbekal pengalaman panjang di perbankan konvensional seperti Bank Danamon di wilayah Madiun dan sekitarnya, ia kemudian mengabdi selama sembilan belas tahun di PT Permodalan Nasional Madani hingga dipercaya menjabat sebagai Kepala Divisi di PNM Pusat dengan berbagai predikat kepemimpinan cabang terbaik nasional atas keberhasilannya mengelola pembiayaan mikro dan pemberdayaan UMKM.

Dalam peluncurannya, Haryono menegaskan bahwa kesuksesan sejati bukanlah milik segelintir orang yang terlahir kaya atau pintar, melainkan hak bagi siapa saja yang mau berikhtiar dan mengubah takdirnya. Ia mempersembahkan buku ini sebagai panduan bagi orang tua untuk menanamkan tiga trilogi karakter utama kepada anak-anak generasi muda, yaitu bekerja optimal tanpa diperintah, jujur disiplin tanpa diawasi, serta bertanggung jawab tanpa diminta. 

"Buku ini bukti karakter saya selama 56 tahun untuk memberikan inspirasi, semangat pada adik-adik kita bahwa sukses itu tidak milik orang tertentu. Orang yang mau mengusahakan, mau berubah dengan cara ikhtiar yang besar, " ucapnya Dr. Haryono disela acara. 

Melalui prinsip hidup yang bersahaja, ia berharap keberhasilan yang tertuang dalam buku ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, melainkan mampu menjalar dan menjadi jembatan kesuksesan bagi banyak orang serta memberikan kontribusi nyata bagi kemuliaan masyarakat luas. 

"Ada dua prinsip yang saya jaga hingga sekarang. Yang pertama jadi orang Itu harus lomo, loma kuwi ora kudu duwe, loman tenaga, seneng dadi tetulung. Itu loman. Dua, adalah orang yang berbuat baik kepada siapapun termasuk yang membenci kita. Itu aja kuncinya, " imbuhnya.

Dr. Haryono juga menandaskan untuk suka membantu terhadap sesama. "Suka menolong dan jangan pernah membenci. Bantulah seseorang walaupun dia tidak bantu kita, bahkan mengkhianati kita, tetep kita bantu. Nah, itulah karakter bangsa yang insyaallah sesuai dengan perintah Gusti Allah, Wallahu yuhibbul muhsinin, Allah itu senang pada orang-orang yang berbuat baik. Itu pahalanya dari Dia, " tandasnya. (hrs)